Liburan akhir tahun 2025

 Liburan Saya

Oleh: Danish Argia Arumansyah



Liburan saya kali ini terasa sangat berbeda dibandingkan liburan-liburan sebelumnya. Biasanya, liburan identik dengan istirahat dari sekolah, bangun siang, dan melakukan berbagai hal menyenangkan tanpa banyak tanggung jawab. Namun kali ini, liburan saya tidak hanya menjadi waktu untuk bersantai, melainkan juga menjadi penanda awal dari sebuah perubahan besar dalam kehidupan saya dan keluarga. Liburan ini bukan sekadar tentang bersenang-senang, tetapi tentang berpindah, beradaptasi, dan memulai babak baru.

Di awal masa liburan, keluarga saya pindah ke rumah baru. Menariknya, rumah baru ini sebenarnya tidak berada jauh dari rumah lama kami. Jaraknya sangat dekat, bahkan masih berada di RT yang sama. Lingkungan sekitarnya pun terasa sangat familiar. Jalan yang saya lewati masih jalan yang sama, suara anak-anak bermain masih terdengar dari arah yang sama, dan tetangga yang saya sapa pun masih orang-orang yang sama. Jika dilihat dari luar, seolah tidak ada perubahan besar yang terjadi.

Namun meskipun jaraknya dekat, perasaan saya tidaklah sama. Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti memulai hidup baru tanpa benar-benar meninggalkan kehidupan yang lama. Saya masih berada di lingkungan yang sama, tetapi kini saya bangun tidur di tempat yang berbeda, melihat sudut rumah yang berbeda, dan menjalani rutinitas di ruang yang benar-benar baru.

Rumah baru kami sangat sederhana. Rumah itu hanya memiliki satu lantai dan terdiri dari tiga ruangan saja. Tidak ada banyak sekat atau pintu yang memisahkan ruang-ruang di dalamnya. Ruangan utama menjadi pusat aktivitas keluarga. Di sanalah kami berkumpul, duduk bersama, berbincang, makan, dan beristirahat. Ruangan kedua adalah kamar mandi, dan ruangan ketiga adalah kamar saya.

Hanya tiga ruangan. Tidak lebih.

Namun dari ketiga ruangan tersebut, kamar saya adalah yang paling berarti bagi saya.

Kamar saya sangat kecil, luasnya hanya sekitar 2×2 meter. Jika saya berdiri di tengah ruangan, saya bisa menjangkau hampir seluruh sisi kamar hanya dengan beberapa langkah kecil. Bagi sebagian orang, kamar ini mungkin terasa sempit dan kurang nyaman. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya terlalu kecil untuk disebut kamar tidur. Namun bagi saya, kamar ini adalah sesuatu yang sangat berharga.

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya memiliki kamar sendiri.

Di kamar kecil itu, saya bisa menyimpan barang-barang pribadi tanpa perlu berbagi ruang. Saya bisa menutup pintu dan menikmati waktu sendiri. Saya bisa beristirahat dengan tenang, berpikir, dan melakukan hal-hal yang saya sukai. Meski ukurannya kecil, kamar ini memberi saya rasa kebebasan yang sebelumnya belum pernah saya rasakan. Dari sini saya belajar bahwa kenyamanan tidak selalu ditentukan oleh luas ruangan, melainkan oleh rasa aman dan rasa memiliki.

Orang tua saya juga bercerita tentang rencana rumah ini ke depannya. Rumah ini sebenarnya direncanakan akan dibuat menjadi dua lantai. Namun pembangunannya tidak dilakukan sekaligus, melainkan dicicil secara bertahap. Mendengar rencana itu membuat saya membayangkan masa depan rumah kami. Saya membayangkan bagaimana suatu hari nanti rumah ini akan bertambah tinggi, memiliki ruangan baru, dan menyimpan lebih banyak cerita keluarga. Rumah ini terasa seperti sesuatu yang masih hidup dan masih akan terus bertumbuh bersama kami.

Hari-hari awal liburan banyak diisi dengan menata rumah. Kami memindahkan barang-barang, mengatur ulang posisi perabotan, dan menyesuaikan diri dengan ruang yang lebih sederhana. Tidak jarang kami duduk bersama di ruangan utama sambil berbincang santai. Obrolannya sederhana, kadang tentang rumah, kadang tentang rencana ke depan, dan kadang hanya tentang hal-hal kecil yang tidak terlalu penting. Namun justru dari momen-momen sederhana itulah rasa kebersamaan terasa semakin kuat.

Di tengah masa liburan tersebut, kami juga menyempatkan diri berkunjung ke rumah adik dari kakek saya yang tinggal di Depok. Kunjungan ini terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Rumahnya sederhana, tetapi suasananya nyaman dan akrab. Kami mengobrol santai sambil mengenang cerita-cerita lama tentang keluarga. Saya mendengarkan kisah masa lalu yang jarang saya dengar sebelumnya, terutama tentang kakek saya dan kehidupan mereka dahulu. Dari kunjungan ini, saya merasa semakin dekat dengan keluarga besar dan menyadari pentingnya menjaga hubungan, meskipun tidak selalu bertemu setiap waktu.

Selain membantu orang tua di rumah, saya juga menghabiskan banyak waktu di kamar saya. Di ruangan kecil itulah saya sering bermain game bersama teman-teman. Saya mengenakan headset dan masuk ke voice chat. Meskipun kami tidak bertemu secara langsung, suara mereka yang terdengar di telinga membuat rasanya seperti sedang berkumpul bersama.

Kami bermain game sambil bercanda, tertawa, dan saling menyemangati. Kadang kami fokus bermain, kadang justru lebih banyak mengobrol. Kami membicarakan liburan masing-masing, hal-hal random, dan rencana sekolah yang sebentar lagi akan dimulai. Dari kamar kecil berukuran 2×2 meter itu, saya tetap merasa terhubung dengan dunia luar. Kamar kecil saya menjadi tempat beristirahat sekaligus tempat bersosialisasi.

Selain di rumah, liburan saya juga diisi dengan kegiatan pergi ke mall bersama keluarga. Salah satu momen yang paling saya ingat adalah saat kami pergi ke Kuningan City. Hari itu terasa spesial karena kami berencana menonton film bersama. Saya pergi bersama ayah, ibu, dan dua adik saya—satu adik laki-laki dan satu adik perempuan. Suasana mall terasa ramai, dipenuhi orang-orang yang juga sedang menikmati masa liburan mereka.

Di bioskop, kami menonton film berjudul SpongeBob: Search for SquarePants. Film ini sangat menyenangkan untuk ditonton bersama keluarga. Banyak adegan lucu yang membuat kami tertawa bersama. Suasana bioskop dipenuhi suara tawa penonton, dan saya merasa senang bisa berbagi momen tersebut dengan keluarga. Filmnya mungkin sederhana, tetapi pengalaman menontonnya terasa istimewa karena dilakukan bersama orang-orang terdekat.

Kami juga pergi ke mall lain untuk menonton pertunjukan Avatar: Fire and Ash. Keinginan menonton pertunjukan ini datang dari adik saya. Saya sendiri tidak terlalu memperhatikan nama mallnya, bahkan sampai sekarang saya lupa. Namun saya tetap ikut, karena bagi saya liburan juga tentang berbagi waktu dan mengikuti keinginan anggota keluarga lain.

Pertunjukan tersebut cukup menarik dan terasa berbeda dari tontonan biasa. Visualnya terlihat megah dan suasananya imersif. Meskipun awalnya saya hanya ikut-ikutan, lama-kelamaan saya bisa menikmatinya. Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa terkadang hal-hal yang tidak kita rencanakan justru bisa memberikan pengalaman baru yang menyenangkan.

Selain itu, kami juga mengunjungi IKEA. Kunjungan ke IKEA bukan sekadar jalan-jalan, tetapi juga menjadi bagian dari rencana besar keluarga kami untuk rumah baru. Orang tua saya mencari perabotan sekaligus inspirasi untuk menata rumah. Kami berjalan menyusuri lorong-lorong panjang yang dipenuhi contoh ruang tamu, kamar tidur, dapur, dan berbagai jenis furnitur.

Saya ikut melihat-lihat dan membayangkan. Saya membayangkan bagaimana rumah kami nantinya jika sudah lebih lengkap. Saya juga membayangkan bagaimana kamar kecil saya bisa ditata agar tetap nyaman meskipun ukurannya terbatas. Dari IKEA, saya menyadari bahwa sebuah rumah bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang bagaimana setiap sudut diisi dengan fungsi, kenyamanan, dan makna.

Hari-hari liburan berlalu tanpa terasa. Tidak ada perjalanan jauh atau jadwal yang padat, tetapi justru itulah yang membuat liburan ini terasa berkesan. Saya menghabiskan waktu di rumah, bermain game dengan teman-teman lewat voice chat, pergi ke mall bersama keluarga, dan menyesuaikan diri dengan rumah baru.

Menjelang akhir liburan, saya mulai menyadari bahwa liburan ini bukan sekadar waktu untuk beristirahat dari sekolah. Liburan ini adalah masa transisi, masa di mana saya belajar beradaptasi dengan perubahan, mensyukuri hal-hal sederhana, dan memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar.

Rumah baru kami mungkin kecil dan sederhana, tetapi di dalamnya terdapat rencana, harapan, dan kebersamaan. Kamar saya mungkin hanya berukuran 2×2 meter, tetapi di sanalah saya beristirahat, bermain game, berbincang dengan teman-teman, dan merasakan arti memiliki ruang sendiri. Pergi ke mall, menonton film, berkunjung ke rumah keluarga, dan mengunjungi IKEA mungkin terdengar biasa, tetapi ketika dilakukan bersama keluarga, semua itu menjadi kenangan yang berarti.

Liburan ini mengajarkan saya bahwa kebahagiaan sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana: rumah baru yang masih bertumbuh, kamar kecil yang terasa milik sendiri, suara tawa keluarga, serta suara teman-teman di voice chat. Dan liburan kali ini, dengan segala kesederhanaannya, akan selalu saya ingat sebagai awal dari babak baru dalam hidup saya.


Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Mengenal Coding dan Kecerdasan Buatan (AI) untuk Siswa SMP Labschool Jakarta: Panduan Lengkap dan Inspiratif

Bab 3 - Dampak Sosial Informatika

Bab 5 - Cakap dan Etis Bermedia Digital